dakwatuna.com - Kembali kita buka lembaran-lembaran
sirah, akan kita dapati, para sahabat-sahabat yang menjadi pahlawan,
yang mendapatkan syahadah. Lalu apa yang menjadikan mereka seperti itu?
Jawabnya adalah, karena mereka kokoh, kuat dari sisi jasmani maupun
ruhani. Segala perintah yang dianjurkan oleh Rasulullah saw mereka
jalani. Mereka tak pernah mengeluh karena beratnya tugas yang dipikul,
mereka tidak pernah membantah terhadap pilihan-pilihan dakwah yang
diberikan, mereka juga tidak pernah mundur dalam medan perjuangan.
Mereka adalah prajurit sejati. Lalu pertanyaannya, bagaimana dengan
kita?
Melihat kondisi saat ini, menjadi kebutuhan kita semua dalam
memulai pertarungan yang baru, pertarungan yang akan menghantarkan kita
pada sebuah kemenangan ataukah kekalahan? Hal ini menjadi penting
melihat kondisi medan dakwah yang semakin luar biasa kita hadapi. Ini
menyangkut dakwah kita yang sudah memasuki wilayah negara. Tentu saja
seorang kader dakwah memahami akan hal ini. Ketaatan akan semua aturan
yang digariskan oleh jamaah menjadi mutlak untuk dijalankan.
Saat
ini kita semua paham, dakwah telah memasuki fase yang lebih luas.
Tentunya, untuk menjawab seluruh tugas dan tantangan yang diemban. Maka
kita semua pun menyadari, membutuhkan SDM yang luar biasa “kader-kader
tangguh”, baik secara jasmani maupun ruhiyah. Karena kader merupakan
sebuah ujung tombak akan kesuksesan dakwah itu sendiri. Maka di sini
kesadaran seorang kader dakwah menjadi point penting dalam mencapai
kemenangan dakwah. Seorang kader dakwah harus menyadari akan kewajiban
yang muncul dari dirinya, yaitu dia harus berdakwah. Ketika
seorang kader dakwah menyadari, bahwa perjalanan hidupnya adalah untuk
dakwah. Bekerja untuk dakwah, mengajar untuk dakwah, berteman untuk
dakwah, berkeluarga untuk dakwah dan bermacam bentuk aktivitas lainnya
semata-mata untuk dakwah, Lillahi Taala.
Untuk mencapai
kemenangan, kekokohan kader dakwah menjadi hal yang harus dipahami oleh
setiap kader. Kita dapat melihat gambaran kader yang kokoh seperti yang
telah disampaikan oleh Imam As-Syahid Hasan al Banna, yaitu mencakup: Pertama, Salimul Aqidah, kader dakwah dituntut untuk memiliki kelurusan aqidah melalui tuntunan Al-Qur’an dan Sunah. Kedua, Shahihul ’ibadah, kader dakwah dituntut untuk beribadah sesuai petunjuk yang disyariatkan kepada Rasulullah Saw. Ketiga, Matinul Khuluq, kader dakwah dituntut memiliki ketangguhan akhlaq, sehingga mampu mengendalikan hawa nafsu dan syahwat. Keempat, Qadirin ‘alal kasbi, kader dakwah dituntut untuk menunjukkan kreativitas dan potensinya dalam dunia kerja. Kelima, Mutsaqqaful fikri, kader dakwah dituntut untuk memiliki wawasan yang luas. Keenam, Qawiyyul Jismi, kader dakwah dituntut untuk memiliki kekuatan atau kesehatan jasmani. Ketujuh, Mujahidun lin nafsi, kader dakwah dituntut untuk memerangi hawa nafsunya. Kedelapan, Munadzam fi syu’unihi, kader dakwah dituntut untuk mengatur seluruh urusannya sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan oleh Islam. Kesembilan, Haritsun ‘alal waktihi, kader dakwah dituntut untuk mampu memelihara waktunya. Kesepuluh, Nafi’un lighairihi, kader dakwah dituntut untuk bermanfaat bagi yang lain.
Jika
kader dakwah telah memiliki kesepuluh sifat ini, maka kader dakwah
telah memiliki kekuatan dan kekokohan jasmaninya maupun ruhiyahnya.
Sehingga beban dakwah yang di embannya mampu ia jalankan sesuai amanah
yang diberikan. Maka akan nampak sebuah perubahan besar ke depan tentang
cita-cita kemenangan dakwah. Oleh karenanya seorang kader dakwah harus
selalu mentarbiyah dirinya. Terutama tarbiyah ruhiyah. Melalui inilah
dalam Al-Quran dijelaskan, kemenangan demi kemenangan didapat melalui
kekuatan ruhiyah. Kekuatan ruhiyah inilah yang akan membawa kekuatan
jasmaniyah. Kita dapat melihat suksesnya khalifah Umar bin Khathab dalam
memerintah, itu semua karena kekuatan ruhiyah yang ada pada diri beliau
begitu kuat. Kemudian khalifah bin Abdul Aziz, itupun karena kekuatan
ruhiyahnya. Itulah gambarannya. Saat ini kita akan dan sedang menghadapi
pertarungan dalam kancah siyasi. Maka sudah seharusnya seluruh kader
memperkuat tarbiyah ruhiyahnya. Ini untuk menghantarkan kita semua pada
kemenangan dakwah yang kita harapkan.
Kemenangan yang harus dipahami oleh seorang kader dakwah adalah kemenangan yang datangnya dari Allah Swt “Waman nasru illa min ‘indillah”.
Begitu pun kemenangan tertinggi dalam Islam yang telah dijelaskan dalam Al-Quran yakni pembebasan dari api neraka.
“Tiap-tiap
yang berjiwa akan merasakan mati. Dan Sesungguhnya pada hari kiamat
sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan
dimasukkan ke dalam surga, Maka sungguh ia Telah beruntung. Kehidupan
dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (Al-Imran:185)
Siapkah Antum/na semua menyambut kemenangan?
Saatnya
kita SIAP untuk menyambut kemenangan. Laksanakan mulai detik ini untuk
mencapai kemenangan yang kita harapkan dengan melakukan ibadah wajib,
ibadah sunah qiyamullail “shalat malam”, doa-doa, tidak menyakiti orang
lain dan orang tua, perbanyak sedekah, perbanyak silaturahim, dll. Insya
Allah kemenangan itu benar-benar akan menjadi kenyataan. Aamiin…
Kemenangan yang datang langsung dari Allah Taala.
“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (Muhammad:7)
Allahualam bisshawwab…
—
Review Apel Siaga Kemenangan, yang diselenggarakan oleh DPD PKS Kota Bogor yang lalu.



0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !