dakwatuna.com - “Seperti itulah kalian maka pemimpin pun seperti kalian”
Saya
teringat untaian kalimat di atas pernyataan yang dikutip dari seorang
tokoh besar dan namanya pun sudah tak asing lagi di telinga umat Islam.
Siapa kalau bukan Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyah. Ketokohan dan
keilmuannya sangat disegani. Hal ini dikarenakan luasnya ilmu yang
dimiliki serta ribuan buku yang menjadi karyanya. Sejumlah julukan
diberikan Ibnu Taimiyah, antara lain Syaikhul Islam, Imam, Qudwah,
‘Alim, Zahid, Da’i, dan lain sebagainya.
“Seperti itulah kalian maka pemimpi pun seperti kalian”
Mengarah
pada apa yang menjadi bahan pemikiran bersama. Rasanya kalimat itu pas
jika kita sinkronkan pada keadaan bangsa kita saat ini. Mengapa
demikian? Sebelum ke arah sana, sedikitnya saya mencoba untuk
menggambarkan apa yang sebenarnya sedang terjadi pada bangsa kita.
Permasalah
yang menjadi perhatian kita saat ini adalah bagaimana setiap hari dari
beberapa media baik media elektronik atau media cetak kasus-kasus yang
menggelayuti bangsa ini kian memalukan. Mulai dari kasus korupsi,
penipuan, moral pejabat pemerintahan ataupun yang lainnya. Melihat
sedemikian banyaknya kasus yang terjadi rasanya kita miris
menyaksikannya. Bahkan rasanya rasa optimis pada bangsa ini untuk maju
sebagian luntur. Semoga tidak demikian!
Yang menjadi sorot
perhatian adalah bagaimana setiap kasus-kasus yang terjadi seringkali
kita sebagai rakyat atau masyarakat yang menempati bangsa ini merasa
bahwa permasalahan tersebut adalah murni kesalahan para elit
pemerintahan. Apakah demikian?
Kemarin ketika saya berada dalam
angkutan kota di kabupaten Bogor. Saya mencoba berbincang dengan supir
angkot yang saya naiki saat itu. Lama perbincangan, hingga akhirnya
supir angkot melontarkan pertanyaan. Kalau bangsa ini seperti ini yang
salah rakyat apa pemerintah mas? Saya jawab semuanya yang salah Pak.
Supir itu pun menyanggah ini murni pemimpin kita yang salah. Oke saya
terima pendapat beliau karena beliau pun tak salah.
Apa yang ingin
diperjelas adalah seringkali di antara masyarakat atau khususnya diri
kita. Apa yang terjadi pada bangsa ini sepenuhnya kesalahan pemerintah
atau para elit pemerintahan. Padahal menurut pandangan saya tidak
selamanya seperti itu. Di sini saya tidak berada dalam konteks Pro
pemerintahan. Tapi bagaimana saya ingin mencoba mengajak untuk kita
semua berfikir. Karena ini menjadi penting untuk kemajuan bangsa kita ke
depan.
Ketika dikatakan Pemerintah dan elit pemerintahan dikatan
salah. Saya katakan dengan tegas IYA. Bagaimanapun seorang pejabat
pemerintahan adalah yang bertanggung jawab penuh terhadap bangsa ini.
Saya terkadang riskan terhadap keadaan masyarakat kita saat ini.
Bagaimana budaya menyalahkan sering kali di nomor satukan! Padahal
sebagai masyarakat kita memiliki peranan penting dalam konteks kemajuan
bangsa. Bukan demikian?
Saya tertarik menyorot sebuah satu kasus
yang menjadi trend di negeri kita. Katakanlah kasus “KORUPSI”. Berbagai
macan kasus korupsi dari beberapa sektor lingkungan pemerintahan kita
bisa saksikan seperti kasus Century, Wisma Atlet, dll. Yang menjadi
pertanyaan apa yang sebetulnya menjadi akar permasalah korupsi?
“Seringkali jargon tolak korupsi, hukum mati koruptor tak sejalan dengan realita yang ada”
Mengutip
dari pernyataan Ust. Anis Mata ketika menghadiri agenda Milad sebuah
partai di Hotel Brajamustika Bogor setahun yang lalu. Apa yang
sebetulnya menjadi akar permasalah korupsi? Dengan menunjukkan data
statistik saat itu, beliau mengatakan 65% masyarakat Indonesia setuju
dengan Money Politics. Inilah yang sebetulnya menjadi permasalahan
maraknya korupsi pada bangsa ini. Kalau demikian siapa yang salah?
Oke,
di sini kita tidak untuk berniat untuk menyalahkan satu dengan yang
lainnya. Saya sepakat rasanya dengan ungkapan Ust. Anis Mata tersebut.
Menu hajatan yang diselenggarakan setiap lima tahun sekali rasanya
menjadi menu yang lezat bagi sebagian masyarakat saat itu. Money Politic
Tidak hanya terjadi pada menu hajatan lima tahun sekali. Hal seperti
ini terjadi pula pada masa pemilihan RT/RW, Lurah, Bupati/Walikota,
Gubernur, hingga pemerintahan.
Mengarah kembali pada kalimat di atas “Seperti itulah kalian maka pemimpi pun seperti kalian”, ini menggambarkan begitu jelas bahwasanya
masyarakat khususnya kita perlu sadar akan hal ini. Ketika kita
berharap mendapat pemimpin-pemimpin yang baik, para elit pemerintahan
yang baik sehingga nantinya berharap pada bangsa yang baik. Maka
sejatinya harus diiringi dengan kesadaran diri kita untuk nantinya
mewujudkan apa yang kita harapkan.
Oleh karenanya mari kita
persembahkan untuk negeri. Sebuah masyarakat yang sehat, masyarakat yang
madani, masyarakat yang cerdas. Yang mana dari masyarakat inilah
terciptanya tatanan bangsa yang lebih baik.
Bagaimana untuk mewujudkan masyarakat seperti itu. Rasaya ini menjadi PR kita bersama dalam mewujudkan syakhsiyah islamiyah “kepribadian muslim” di masyarakat kita. Maka di sini peran Tarbiyah akan menjadi sangat penting untuk mewujudkan hal itu.
Inilah
yang akan menjadi salah satu solusi untuk kemajuan bangsa ini “Tarbiyah
bukan segala-galanya tapi segala-galanya bisa diraih dari tarbiyah”.
Perlunya pengintesifan tarbiyah dalam diri, masyarakat, bangsa dan
negara.



0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !